PEMANFAATAN LIMBAH BOTTOM ASH DARI PLTU TANJUNG JATI B JEPARA SEBAGAI BATAKO YANG RAMAH LINGKUNGAN

YAYAN ADI SAPUTRO, Dkk.
Ketua :
YAYAN ADI SAPUTRO
Anggota :
MUHRODI
MOCHAMMAD QOMARUDDIN

Alamat : BRINGIN, RT.16 RW.06 BATEALIT JEPARA


DESKRIPSI

Kabupaten Jepara merupakan kabupaten yang memiliki sumber daya alam yang melimpah untuk mencukupi kebutuhan material sebagai bangunan infrastruktur. Ketersedian material tersebut harus dikendalikan dengan adanya alternative–alternative yang dapat menggantikannya, tanpa mengurangi fungsi dan kekuatan bangunan infrastruktur tersebut. PLTU Tanjung Jati B merupakan salah satu penghasil limbah fly ash, bottom ash, dan gypsum. Limbah tersebut diperoleh dari pembakaran batu bara yang semakin hari semakin meningkat. Apabila material limbah tersebut dapat diserap oleh masyarakat dalam pembangunan infrastruktur, maka biaya akan lebih efisien. Selain itu masyarakat dapat memanfaatkan limbah tersebut secara langsung dan dapat memberi dampak yang positif. Beton dari limbah bottom ash sebagai Batako dengan campuran 1 Pc : 4 Ba, 0.35 FAS, 1% NaOH merupakan hal yang belum pernah diterapkan dalam masyarakat didaerah Jepara. Studi analisis yang baik sangat diperlukan untuk memperoleh penerapan yang optimal dimasyarakat. Limbah bottom ash banyak ditemui di PLTU Tanjung Jati B Jepara, namun belum dimanfaatkan karena dianggap sebagai bahan yang berbahaya baik untuk lingkungan maupun makhluk hidup lainnya. Semakin tahun limbah ini semakin banyak dan diperlukan perluasan lahan untuk menampungnya. Oleh karena itu limbah bottom ash ini dimanfaatkan menjadi batako yang ramah lingkungan dan harga yang murah sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Hasil dari kajian menggunakan bottom ash ini dengan cara membandingkan mix desain hingga diperoleh mix desain yang efisien yaitu 1 Pc : 4 Ba, 0.35 FAS, 1% NaOH. Mix desain yang digunakan mampu mencapai mutu K-175. Setiap proses percobaan dilakukan berdasarkan prosedur SNI dengan analisis material penyusun. material yang digunakan mulai dari: semen, pasir, dan bottom ash. Batako yang dibuat berukuran (39x17x10) cm dan setelah dalakukan kajian dengan kualitas air, batako tersebut masuk dalam kategori produk yang ramah lingkungan. Batako dengan menggunakan limbah bottom ash ini mampu menekan harga sebesar 35% dari biaya pembuatan dibanding dengan pembuatan batako pada umumnya.